BeritaInfoJitu, Jakarta — Suara khas bambu yang berpadu dengan aransemen musik penuh energi menggema di Mall Basura, Jakarta Timur, Jumat (29/8/2026). Penampilan Angklung Perempuan Indonesia (API) menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian dalam gelaran Freedom Festival 81 dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di hadapan pengunjung mall, para perempuan anggota API tampil kompak membawakan sebanyak 11 lagu. Tidak hanya mengandalkan keunikan suara angklung, mereka juga menghadirkan penampilan yang dinamis sehingga mampu menciptakan suasana meriah dan mengundang antusiasme penonton.
Bagi API, tampil dalam perayaan kemerdekaan bukan sekadar kesempatan untuk menghibur masyarakat. Momen tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan angklung kepada masyarakat luas, khususnya generasi yang hidup di tengah perkembangan musik modern.
Kekompakan para pemain tidak terlepas dari pola latihan yang disiplin. Ketua Umum API, Effy Kuswita, mengatakan bahwa kedisiplinan menjadi salah satu kunci untuk menghasilkan pertunjukan yang maksimal.
“Seluruh peserta adalah wanita yang tangguh dan luar biasa. Kami sangat menerapkan kedisiplinan dalam setiap latihan agar semua terlihat bagus,” ujar Effy.
Dua Rekor MURI dan Target Prestasi Berikutnya
Perjalanan API dalam mengembangkan musik angklung juga telah menghasilkan sejumlah pencapaian. Grup yang seluruh anggotanya perempuan ini tercatat telah meraih dua Rekor MURI.
Tidak berhenti sampai di sana, API kini tengah mempersiapkan langkah berikutnya. Mereka menargetkan pencapaian Rekor MURI ketiga yang direncanakan berlangsung pada Oktober 2026.
Persiapan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh anggota karena membutuhkan kekompakan, konsistensi latihan, serta kemampuan menjaga kualitas penampilan secara bersama-sama.
Menggagas Rumah Angklung
Di balik berbagai aktivitas pertunjukan dan pencapaian tersebut, API juga memiliki gagasan yang lebih besar untuk masa depan. Effy Kuswita mengungkapkan keinginan untuk membangun Rumah Angklung, sebuah wadah yang diharapkan dapat menjadi pusat pengembangan kreativitas angklung.
Menurutnya, keberadaan Rumah Angklung nantinya tidak hanya menjadi tempat berkumpul atau berlatih, tetapi juga dapat mengintegrasikan berbagai proses kreatif, mulai dari pembuatan alat musik hingga menghasilkan karya dan pertunjukan.
“Kami ingin mendirikan Rumah Angklung sehingga bisa merangkum semua proses kreatif. Biar karya yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan,” jelas Effy.
API juga memberikan perhatian terhadap pemilihan repertoar dan konsep penampilan. Lagu serta kostum dipersiapkan secara selektif agar dapat mendukung karakter pertunjukan dan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.
Effy menilai karakter angklung akan semakin menarik ketika dipadukan dengan lagu-lagu yang memiliki irama dinamis.
“Musik angklung ini lebih bagus dengan lagu yang iramanya seru dan tidak terlalu slow,” katanya.
Konsistensi Sang Guru
Perjalanan API juga tidak terlepas dari peran Muhamad Firdaus, guru yang disebut telah mendampingi grup tersebut sejak awal berdiri hingga saat ini.
Pendampingan yang dilakukan secara berkesinambungan menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga perkembangan kemampuan para pemain sekaligus mempertahankan kekompakan kelompok.
Penampilan API di Freedom Festival 81 akhirnya menjadi gambaran bahwa musik tradisional tidak harus berada jauh dari kehidupan masyarakat modern. Di tengah suasana pusat perbelanjaan yang identik dengan gaya hidup urban, angklung tetap mampu menciptakan ruang tersendiri dan mengundang masyarakat untuk menikmati warisan budaya Indonesia.
Dengan pengalaman, prestasi, serta rencana membangun Rumah Angklung, Angklung Perempuan Indonesia terus membawa pesan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan kreativitas, prestasi, dan semangat perempuan Indonesia. (***)













